Pendet Diributin, Maling Beneran Didiemin…

http://www.inilah.com/berita/2009/08/23/145816/klaim-tari-pendet-malaysia-%C3%A2%E2%82%AC%CB%9Cko%C3%A2%E2%82%AC%E2%84%A2-ri/

INILAH.COM, Jakarta – Klaim kebudayaan Indonesia masih saja terus dilakukan Malaysia. Setelah sebelumnya lagu ‘rasa sayange’, batik, angklung, reog Ponorogo, bunga Raflesia, dan yang terbaru tarian sakral Bali, tari Pendet. Inikah cara Malaysia meng-‘KO’ (Knock Out) RI?

Geram dan marah muncul dari masyarakat Indonesia menyikapi klaim kebudayaan yang dilakukan Malaysia. Berbagai aset budaya nasional dalam rentang waktu yang tak begitu lama, diklaim negara tetangga.

Pola pengklaimannya pun dilakukan melalui momentum formal kenegaraan. Seperti melalui media promosi ‘Visit Malaysia Year’ yang diselipkan kebudayaan nasional Indonesia.

Klaim-klaim ini seperti menambah deretan panjang kisruh Indonesia versus Malaysia. Mulai persoalan perbatasan Ambalat, hingga persoalan penanganan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Klaim terbaru soal tari pendet seperti mempertegas posisi Malaysia versus Indonesia. Kondisi ini pun menjadikan polemik di internal, ada yang menyikapinya konfrontatif ada pula yang melalui jalur ‘damai’.

Salah satunya yang disampaikan pemerhati budaya Edi Haryono. Menurut dia, sudah saatnya RI-Malaysia duduk bersama untuk mendata secara detil mana kebudayaan Indonesia dan mana kebudayaan Malaysia.

“Saya sarankan agar Indonesia dan Malaysia duduk bersama mendata kebudayaan masing-masing,” ujarnya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (23/8).

Menurut pemimpin Theater Bela Studio ini, persoalan seperti klaim tari Pendet oleh Malaysia masih berpeluang terus terjadi dan tidak hanya dari Malaysia, namun negara lainnya di sekitar Indonesia. “Bisa saja, nanti Brunei Darussalam juga mengklaim kebudayaan kita. Ini karena, memang pada dasarnya kita satu nusantara,” cetusnya.

Menurt Edi, dalam beberapa kasus pengklaiman budaya RI oleh Malaysia karena ketidaktahuan negara jiran itu atas budaya Indonesia. Budaya yang telah melekat di Indonesia, juga menjadi bagian budaya bagi masyarakat Malaysia yang diperkenalkan oleh orang tuanya sejak kecil.

“Seperti pernyataan Anwar Ibrahim yang menegaskan sejak kecil dirinya sudah tahu tentang lagu-lagu dari Indonesia, meski warga Malaysia tidak tahu kalau lagu itu dari Indonesia,” paparnya.

Realitas ini setidaknya untuk mendamaikan suasana antara kedua belah pihak. Meskipun, Edi tidak menampik pengklaiman budaya Indonesia oleh Malaysia terdapat kemungkinan faktor kesengajaan. “Mungkin saja ada faktor kesengajaan. Makanya, harus duduk bersama untuk mendata kebudayaan masing-masing negara,” tegasnya.

Menyikapi klaim Tari Pendet oleh Malaysia, para seniman Bali menggelar aksi protes diikuti oleh berbagai kalangan baik akademisi maupun para politisi. Menurut seniman tari Wayan Dibia, tari Pendet pada awalnya merupakan tarian sakral ritual keagamaan. “Sudah ratusan tahun masyarakat Bali memainkan Tari Pendet,” tegasnya di Denpasar, Bali, Sabtu (22/8).

Sementara anggota DPD RI dari Provinsi Bali Ida Ayu Agung Mas menandaskan, pihaknya akan membawa aspirasi seniman Bali kepada pemerintah pusat agar mengeluarkan protes resmi dari lembaga negara di Indonesia.

“Dalam waktu dekat kami akan sampaikan protes resmi kepada Kedutaan Malaysia di Indonesia untuk minta klaim itu segera dicabut,” tandasnya seraya mengaku prihatin atas klaim Malaysia terhadap Tari Pendet.

Ia pun berharap, agar pemerintah mendata ulang kekayaan budaya nusantara dengan menerbitkan hak cipta. Menurut dia, kasus seperti klaim Tari Pendet hakikatnya yang telah terjadi sebelumnya seharusnya menjadi pelajaran bagi pemerintah. “Kasus-kasus serupa sebelumnya, seharusnya menyadarkan pemerintah untuk cepat bertindak,” tegasnya.

Persoalan klaim kebudayaan Indonesia oleh Malaysia ada baiknya telunjuk Indonesia tak hanya menuding pihak Malaysia semata. Tak salah jika melakukan introspeksi atas ketahanan dan kepedulian bangsa ini terhadap warisan nenek moyangnya.

Pasalnya, bagaimanapun, negara harus responsif atas kasus seperti ini. Padahal kasus serupa, bukan kali ini saja. Malaysia benar-benar kembali mempercundangi Indonesia.

Kalau negara indonesia ini benar-benar menghargai dan ingin melindungi yang menjadi kekayaannya baik itu berupa kekayaan intelektual (ingat-ingat kasus David, mahasiswa indonesia di Singapura), ataupun kekayaan alam (silahkan cari tahu soal blok Cepu, Exxon Mobil, Freeport, Newmont) seharusnya menjadi perhatian bagi bangsa ini. Dari dulu bangsa ini lebih suka dijunjung dan disanjung, terlalu mudah ‘dijilat’ dan tidak memiliki harga diri.

Minyak mentah yang seharusnya bisa diolah oleh tenaga ahli dari dalam negeri, tapi ternyata kalah oleh bule-bule yang hanya dengan modal otak dan dengkul. Silahkan cek, apakah perusahaan minyak dari luar negeri yang benar-benar membangun perusahaan mereka di sini. Kebanyakan mereka ke sini dengan modal otak, untuk ngakali rakyat indonesia, dengan cara melobi para pemegang kebijakan (baca: pejabat). Mereka datang ke sini, dengan membawa kesepakatan pembagian hasil jika mereka diijinkan menyedot minyak dari dalam perut negeri ini. Karyawan, gedung dengan segala perlengkapannya, bisa dibilang semuanya nyewa, bahkan jika bisa kertas pun akan mereka sewa. Di lapangan, perlengkapan untuk menghisap minyak, hingga tanker yang digunakan untuk membawa minyak pun mereka sewa. Tapi mereka bisa mendapatkan banyak hasil. Sedangkan rakyat harus ‘nrimo’ dengan kelangkaan minyak tanah, seiring harganya yang semakin melangit (kabar terakhir bulan lalu di Purwakarta minyak sudah mencapai Rp 8.000,- per liter, seharga PERTAMAX!!!). Konversi gas yang dipaksakan, tanpa melihat kesiapan rakyat yang selama ini menggantungkan pada minyak tanah, berakibat kebakaran di berbagai daerah, dan para oknum pemegang kebijakan pun berkelit ‘kami sudah melakukan sosialisasi cara penggunaan kompor gas’. Di bawah, rakyat yang takut untuk menggunakan gas pun akhirnya menjual tabung gas mereka dengan harga murah, 80 ribu hingga 100 ribu. Dan akhirnya, banyak yang kembali ke kayu bakar, dan jika sedikit beruntung, mereka bisa membeli arang yang sedikit lebih mahal. Alih-alih membuat masyarakat semakin maju, ternyata malah memaksa mereka yang miskin untuk jadi semakin miskin, karena harus kembali menggunakan kayu bakar. Isu tentang kebersihan lingkungan jika menggunakan gas, seharusnya lebih ditekankan pada para pengguna kendaraan roda 4 pribadi. Di ibu kota negara, kabut asap sudah jadi pemandangan biasa di hari kerja. Emisi kendaraan yang di dalamnya hanya dinaiki oleh 2-3 orang, sudah membuat lingkungan rusak.

Di indonesia timur, maling-maling berwajah tampan bak bintang film dengan kulit putihnya dan rambut pirangnya, menggunakan orang-orang lokal untuk menambang emas, tapi yang dilaporkan adalah kandungan tembaga dan mineral lainnya. Emas yang mereka tambang, dibawa kembali ke negara asal mereka. Negara ini hanya menerima sekian persen dari hasil tambang tersebut, berupa pajak dan beberapa bahan mineral. Bahkan yang pernah saya dengar, pejabat pun mengetahui hal ini. Karyawan yang berada di bawahnya, mengetahui kecurangan-kecurangan tersebut, tapi demi keamanan posisi jabatannya, dia memilih diam.

Saya heran, bangsa ini begitu ribut dengan saling klaim kebudayaan, yang notabene memang wajar jika banyak kesamaan. Bukannya memang serumpun dengan malaysia? Jadi wajar saja jika kebudayaannya sama. Jika hanya masalah tarian dan nyanyian, bahasa yang digunakan sebagai bahasa resmi negara ini pun sebenarnya sama dengan bahasa melayu yang digunakan oleh malaysia. Lalu kenapa sampai seperti ini?

Masihkah ingat dengan kasus mahasiswa indonesia yang terbunuh di singapura? Kasusnya seolah lenyap ditelan bumi. Padahal dia adalah mahasiswa (baca: SDM) indonesia yang memiliki potensi luar biasa, bahkan konon penelitiannya begitu penting bagi perkembangan teknologi dunia. Lagi-lagi, peran media di sini sepertinya tidak memihak rakyatnya sendiri. Ingatkah kasus manohara pinot? WNI yang juga WN Amerika? kasus rumah tangganya mengalahkan kasus David, pemberitaannya begitu gencar. Kenapa jika kasus terkait singapura begitu mudah beritanya lenyap. Sepertinya ada usaha mengadu domba antara indonesia dan malaysia.

Kenapa bangsa ini selalu meributkan masalah sepele seperti ini, harga diri? Jika masalah harga diri, seharusnya ketika kekayaan alam di sedot oleh negara lain, lebih merasa malu. Apakah indonesia tidak memiliki orang-orang yang cerdas? ternyata tidak. Indonesia memiliki banyak ilmuwan, tapi mereka memang tidak dihargai oleh bangsa/negaranya sendiri. Jika begitu, lalu apa untungnya meributkan sebuah tarian? Jika dari segala sisi, bangsa ini memang sudah tidak memiliki harga diri, terbukti dengan dibiarkannya maling-maling menyedot kekayaan alam, pejabat yang mengkhianati rakyat dan undang-undang yang sudah dibuatnya sendiri.


About this entry